Hujan menjelma irama akustik yang riuh
sekaligus menenangkan. Sepasang sahabat mencoba menepi, berlindung
dari derasanya. Yah, sepasang sahabat itu adalah aku dan kamu.
“Alin, coba tebak! Apa yang lebih riuh
dari suara tangis anak kecil?” tanyamu, mencoba memecah suasana.
“Hujan,” jawabku santai, menyeruput
minuman hangat rasa kunyit yang baru saja datang.
“Hmm… salah. Sekarang, apa yang lebih
hangat dari perapian?” Kedua tanganmu meraih gelas kopi, uapnya tipis mengepul.
Sentuhanmu, Ren. Yang hangat adalah
tanganmu. Karena itu, semua yang kamu sentuh pasti akan menjadi hangat.
“Gelas kopimu,” jawabku singkat, dengan
ekspresi datar sambil memainkan gawai.
“Sekali lagi, ya! Apa yang lebih teduh
dari pepohonan di desa?” Sekali lagi kamu menanyakan hal yang bagiku jawabannya
sungguh rumit.
Tentu saja jawabannya adalah tatapanmu,
Ren. Tidak ada yang lebih teduh dari tatapanmu. Bahkan teduhnya awan pun tak
sebanding dengan tatapanmu. Bagiku.
“Mungkin itu, di belakangmu.” Kamu
menoleh dengan cepat, penasaran dengan apa yang kukatakan.
“Haloo ... Alin, aku bukan laki-laki
mata keranjang.” Kamu mendengus kesal, kemudian melanjutkan kalimatmu, “Okay, ini
yang terakhir! Apa yang lebih pekat dari warna rambutmu?”
Waktu seperti tersendat. Tatapanku terarah
padamu, “Malam ... seribu malam tanpamu.”
“Apa?” Keningmu berkerut.
“Sepertinya buku ini bagus,
judulnya Seribu Malam Tanpamu.” Hening menggantung. Rumah
makan mendadak terasa sempit. Udara seperti menipis. Tak tahu harus bagaimana bereaksi agar tetap terlihat tenang.
“Alin, kamu ini ...” Ucapanmu terpotong
begitu saja, saat mendengar nada romantis diiringi getar dari gawai yang sedari
tadi kausimpan di dalam saku baju.
Kamu :
Hallo Risa, ada apa?
Risa :
...
Kamu :
Hujannya sangat deras, aku masih di rumah makan.
Risa :
...
Kamu :
Iya, memangnya kenapa?
Risa :
...
Kamu : Alin adalah sahabatku sejak kecil.
Di antara kami tidak akan, dan tidak boleh ada perasaan seperti yang kamu
katakan itu. Hubungan kami selamanya akan seperti ini. Persahabatanku dengan
Alin tidak akan terpisahkan sampai kapan pun. Karena itu, tak akan kubiarkan
perasaan seperti yang kamu tuduhkan tadi muncul di antara aku dan Alin.
Aku menunduk, tak ingin mendengar, tapi
setiap kata tetap sampai. Kamu menutup telpon, kemudian menghela
napas panjang.
“Risa barusan menelepon, sepertinya dia
sedikit cemburu dengan ... ”
“Apa yang dia khawatirkan?” ucapku,
memotong kalimatmu.
“Dia bilang, persahabatan dengan lawan
jenis itu pasti salah satunya ada yang menyimpan perasaan lebih.”
“Dan kaupercaya itu?” ucapku. Lagi-lagi
memotong, sebelum kamu melanjutkan kalimat berikutnya.
Percayalah, Risa benar.
Perasaan itu ada. Tumbuh diam-diam, tanpa
izin. Dua puluh satu tahun bukan waktu yang singkat untuk tidak jatuh hati pada
seseorang sepertimu. Perasaan yang ingin kukubur rapat, bahkan dari pandangan
Tuhan, meski langit tak pernah benar-benar buta.
Kau bilang persahabatan ini tak akan
terpisah. Nyatanya, kelak kau akan pergi bersamanya. Dan aku akan tetap di sini,
menjaga jarak yang tak pernah benar-benar jauh, namun tak pernah bisa didekati.
Tak apa. Bagiku, kamu adalah seorang kekasih ...
dalam imajinasi.
Dan mungkin, selamanya akan tetap begitu.
