Buku-buku itu adalah sesuatu yang mampu membawa pikiran-pikiran ajaibku melayang di atas suara yang mampu menembus waktu.

Minggu, 04 Februari 2018

Platonis


          



Hujan menjelma irama akustik yang riuh sekaligus menenangkan. Sepasang sahabat mencoba menepi, berlindung dari derasanya. Yah, sepasang sahabat itu adalah aku dan kamu.

“Alin, coba tebak! Apa yang lebih riuh dari suara tangis anak kecil?” tanyamu, mencoba memecah suasana.

“Hujan,” jawabku santai, menyeruput minuman hangat rasa kunyit yang baru saja datang.

“Hmm… salah. Sekarang, apa yang lebih hangat dari perapian?” Kedua tanganmu meraih gelas kopi, uapnya tipis mengepul.

Sentuhanmu, Ren. Yang hangat adalah tanganmu. Karena itu, semua yang kamu sentuh pasti akan menjadi hangat.

“Gelas kopimu,” jawabku singkat, dengan ekspresi datar sambil memainkan gawai.

“Sekali lagi, ya! Apa yang lebih teduh dari pepohonan di desa?” Sekali lagi kamu menanyakan hal yang bagiku jawabannya sungguh rumit.

Tentu saja jawabannya adalah tatapanmu, Ren. Tidak ada yang lebih teduh dari tatapanmu. Bahkan teduhnya awan pun tak sebanding dengan tatapanmu. Bagiku.

“Mungkin itu, di belakangmu.” Kamu menoleh dengan cepat, penasaran dengan apa yang kukatakan.

“Haloo ... Alin, aku bukan laki-laki mata keranjang.” Kamu mendengus kesal, kemudian melanjutkan kalimatmu, “Okay, ini yang terakhir! Apa yang lebih pekat dari warna rambutmu?”

Waktu seperti tersendat. Tatapanku terarah padamu, “Malam ... seribu malam tanpamu.”

“Apa?” Keningmu berkerut.

“Sepertinya buku ini bagus, judulnya Seribu Malam Tanpamu.” Hening menggantung. Rumah makan mendadak terasa sempit. Udara seperti menipis. Tak tahu harus bagaimana bereaksi agar tetap terlihat tenang.

“Alin, kamu ini ...” Ucapanmu terpotong begitu saja, saat mendengar nada romantis diiringi getar dari gawai yang sedari tadi kausimpan di dalam saku baju.

Kamu     : Hallo Risa, ada apa?

Risa         : ...

Kamu     : Hujannya sangat deras, aku masih di rumah makan.

Risa         : ...

Kamu     : Iya, memangnya kenapa?

Risa         : ...

Kamu     : Alin adalah sahabatku sejak kecil. Di antara kami tidak akan, dan tidak boleh ada perasaan seperti yang kamu katakan itu. Hubungan kami selamanya akan seperti ini. Persahabatanku dengan Alin tidak akan terpisahkan sampai kapan pun. Karena itu, tak akan kubiarkan perasaan seperti yang kamu tuduhkan tadi muncul di antara aku dan Alin.

Aku menunduk, tak ingin mendengar, tapi setiap kata tetap sampai. Kamu menutup telpon, kemudian menghela napas panjang.

“Risa barusan menelepon, sepertinya dia sedikit cemburu dengan ... ”

“Apa yang dia khawatirkan?” ucapku, memotong kalimatmu.

“Dia bilang, persahabatan dengan lawan jenis itu pasti salah satunya ada yang menyimpan perasaan lebih.”

“Dan kaupercaya itu?” ucapku. Lagi-lagi memotong, sebelum kamu melanjutkan kalimat berikutnya.

Percayalah, Risa benar.

Perasaan itu ada. Tumbuh diam-diam, tanpa izin. Dua puluh satu tahun bukan waktu yang singkat untuk tidak jatuh hati pada seseorang sepertimu. Perasaan yang ingin kukubur rapat, bahkan dari pandangan Tuhan, meski langit tak pernah benar-benar buta.

Kau bilang persahabatan ini tak akan terpisah. Nyatanya, kelak kau akan pergi bersamanya. Dan aku akan tetap di sini, menjaga jarak yang tak pernah benar-benar jauh, namun tak pernah bisa didekati. Tak apa. Bagiku, kamu adalah seorang kekasih ... dalam imajinasi.

Dan mungkin, selamanya akan tetap begitu.



#14thDay
#30DWC
#Kunyit-sempit-rumit
#OneDayOnePost



Read More

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Halaman

Aku adalah aku... Bukan kamu juga bukan dia.

BTemplates.com

Seperti Romeo and Juliet

Sumber gambar : google. Com "Kenapa? Bukankah kalau kamu sakit tak akan bisa merawatku?" tanyamu, lembut. Tubuhku terhuy...