Sampailah aku di ujung jalan yang
menyayat. Patah, karam, atmaku dilumat waktu. Hancur, tanpa ampun. Ah, sungguh
tragis. Aku
ingin tetap tegak, tetapi mampukah akar yang telah rapuh menyangga batangnya
sendiri? Sering
kali aku terperanjat ketika menatap mereka, orang-orang yang seolah mampu
bersembunyi dari getir kehidupan, mengembara tanpa beban di pundak. Sementara
aku hanya berjalan tanpa arah, tersesat dalam lorong pikiran yang tak kunjung
menemukan pintu keluar. Tersegel ilusi yang mengikat erat pergelangan jiwa.
Gelap, kelam, silam, aku
terkatung-katung di antaranya. Terpaku oleh usangnya masa lalu yang terpantul
tanpa menyisakan belas kasih. Aku harus apa? Tolonglah! Datang dan beri
sedikit kekuatan. Ingin berdiri tegak pada pendirian, tapi mana bisa? Harapan
saja tak berpihak padaku. Lihat ... ! Bahkan, cahaya juga ikut mencerca dalam
lirih, datang bersilir-silir menerobos udara hingga sampai ke telinga. Kejam!
Lalu, untuk apa aku hidup jika hanya
menjadi gema yang tak pernah didengar?
Ragaku kelu, terombang-ambing dalam ruang hampa yang tak bernama. Bahkan tanpa
diberi makan pun, hidup ini mungkin tetap berjalan, tanpa makna. Aku tak
meminta banyak. Cukup sedikit harapan, sedikit saja.
Namun harapan memberontak, menjauh
meninggalkan kata “kita”. Terpisah menjadi dua kata, “aku dan kamu”
Aku mencoba meraihnya. Berlari dalam sunyi
hingga akhirnya menemukanmu, secercah yang kupikir cahaya. Kudekati, kusapa
dengan sisa keberanian yang kupunya. Tapi lagi-lagi kau berpaling, membiarkan
tanganku menggenggam udara kosong.
Lalu? Untuk apa aku hidup?
“Abel, bangun! Sampai kapan kamu mau
tidur?” Suara
itu mengguncang dinding kesadaranku. Mataku terbuka mendadak.
“Ah, Syifa? Ternyata kamu? Syukurlah
ternyata aku hanya bermimpi?” tangan kananku mengelus dada, merasa lega.
“Mimpi apa kamu sampai nangis gitu?”
tanya Syifa, penasaran.
“Mimpi hidupku berada dalam fase
klimaks,” jawabku pelan. Gelisahnya masih menggantung, bahkan
setelah dunia kembali nyata.
“Hah ... apa?” tanya Syifa, tak paham
dengan apa yang kukatakan.
“Entahlah ...” Aku diam sejenak, berasa
dibuat bingung oleh sang mimpi. Mengusap-usap kedua mata, “Eh, bukannya kamu
mau nraktir aku makan, ya?” lanjutku, mengalihkan pembicaraan.
“Iya, tapi kamu malah tidur.” Sahabatku
ini mengernyitkan dahi, bibirnya manyun. Membuat pipi tembemnya semakin terlihat
mirip bakpau.

Lalu, Apa arti hidup sesungguhnya?
BalasHapusKontemplasi dalam cerpen 😍
BalasHapusharuskah aku hidup hanya untuk cinta ?
BalasHapus