Waktu menengadah tepat di ujung
ingatan. Mencoba merengkuh segurat senyum yang selalu ingin kugenggam. Namun,
aku terlambat … terlalu terlambat. Senyuman itu telah pecah; semburatnya
temaram, lalu meremang dan akhirnya hilang.
Bibir ini gemetar, tangis menggantung
di ambang kata. Aku termangu dalam angan yang entah bagaimana cara
menggambarkannya. Kini, senyumnya perlahan mengabur dari ingatan. Aku
kehilangan kata-kata sebelum sempat merangkainya, tak tahu lagi apa yang harus
kukatakan pada dunia yang mendadak terasa asing.
Malam itu, wajah tuanya begitu dingin. Ada
firasat yang tak ingin kuakui, yang akan hilang bukan hanya senyumnya,
melainkan seluruh dirinya. Di tengah keluasan yang sunyi, dada terasa
menguncup; sesak yang tak menemukan jalan keluar. Air mata jatuh percuma, luruh
tanpa daya, seolah tak pernah cukup untuk menahan apa yang sedang direnggut
waktu.
Mencoba merajut pecahan-pecahan senyum
yang telah karang. Perlahan dan tak pernah pasti. Pada akhirnya aku memilih
menyerah. Memilih untuk melepasnya, menyibak rindu-rindu yang tak berkesudahan.
Dan ...
Kutulis paragraf ini bersama kesedihan.
Selamat Tinggal_Ibu

0 komentar:
Posting Komentar