"Kenapa? Bukankah kalau kamu sakit
tak akan bisa merawatku?" tanyamu, lembut.
Tubuhku terhuyung, jatuh dalam pelukanmu.
Mata terasa berat, seperti temaramnya senja dipenghujung sore.
“Karena aku tahu tak ada lagi harapan
untukmu,” bisikku. “Maka kupilih mengikuti jejakmu.”
“Apa kau bodoh? Kau bisa kehilangan
seluruh ingatan tentangku,” ucapmu, ada getir yang tak sempat kau sembunyikan.
“Iya,” jawabku lirih. “Aku memang bodoh…
karenamu.”
Berhentilah berpikir terlalu jauh. Tak
perlu menghawatirkan bahwa kelak aku akan kehilangan ingatan tetangmu. Inilah
jalan yang telah kupilih. Menjadi apapun agar tetap berada di sisimu. Meski
harus kehilangan semua ingatan.
Aku menatap kedua tanganmu yang terus
menjerit pedih. Mengetahui bahwa segalanya akan sia-sia.
"Aku melakukan ini karena jika kau
pergi bersama ketiadaan, aku dengan cepat mengikutimu. Rasanya kisah kita mirip
dengan Romeo and Juliet. Tidakkah menurutmu ini romantis?" ucapku, mencoba
tersenyum.
"Kamu memang wanita yang
egois," katamu, lirih.
Yah, aku memang egois. Rela kehilangan
semua ingatan, agar bisa tetap di sisimu. Merasa matahariku telah lenyap dan
berpikir bahwa kekosongan itu sungguh nyata.
Bersama akhir dari embus napasmu,
kesendirian pun berlabuh. Rasa hampa mulai menyergap di malam-malam yang
kuhabiskan tanpamu.

