Pesawat kertas yang kaubuat
malam itu, terbang dengan bebasnya. Aku tersenyum dan menadahkan tangan.
Merasakan hangat luapan rasa yang ditiupkannya.
Sekelompok bintang yang bergantung
di langit seolah menertawakanku, “Apa kau yakin? Itu hanya sebuah pesawat kertas
yang kapan pun bisa luruh, bisa hancur.”
“Bagiku,” sahutku pelan, “melindungi
kerapuhannya adalah kebahagiaan. Mendambakan kemegahanmu justru jauh lebih
menyakitkan.”
Aku menggeleng menepis
rayunya, sebab hati yang berserak ini telah jatuh pada pesawat kertas yang
tersisih. Aku ingin menjadi payung untuk pesawat kertas itu, yang kemudian
menyeka seluruh peluh rapuhnya.
“Bodohnya,” bintang-bintang itu kembali
berbisik. “Tidakkah kau takut ia terbang, dibawa angin, lalu pergi jauh
darimu?” ejeknya.
Aku tersenyum.
Ketahuilah, Pun seiring waktu
yang terus berlalu, aku tetap akan mengizinkan dia tuk datang dengan atau tanpa
adanya rindu. Karena mencintai tak selalu berarti memiliki. Kadang ia
hanya tentang menjaga, meski dari jarak yang tak lagi sama.
#Sumber gambar : Google.com

0 komentar:
Posting Komentar