Sumber gambar : internet
Kamu kembali lagi? Kenapa? Padahal
hatimu telah babak belur.
Kamu kesal, geram, mungkin juga gemas pada
kerasnya diriku. Namun seperti hujan yang selalu tahu jalan pulang ke bumi,
kamu datang lagi tanpa sesal. Memunguti serpihan air mata yang berserakan di
lantai, serpihan yang justru kuciptakan sendiri. Sejak awal, niatmu hanya satu:
menjadikanku duniamu. Bukankah begitu?
Aku, wanita yang raganya telah
direnggut takdir. Separuh jiwaku tertinggal di lorong waktu
yang tak bisa kaujamah. Lalu bagian mana dariku yang membuatmu tergila-gila?
Luka? Gelap? Atau bayang-bayang yang bahkan tak utuh menjadi manusia?
Satu belati tajam kutusukkan padamu,
tapi gagal. Kau tetap berdiri. Kemudian tiga belati tajam coba
kutusukkan. Kau ... masih berdiri. Mengais beberapa jiwa yang tersisa, melewati
batas kewajaran hidup seorang manusia.
Meski itu tentang sebuah rasa yang
telah ranum, tapi tidakkah kamu tetap harus berpikir logis? Mencintai siapa
yang patut untuk dicintai. Bahkan kekelamanku telah menyemburatkan warna yang
kamu ukir. Berhentilah melawan takdir. Aku hanyalah ruh yang terseret ke
duniamu, yang hadir ketika matahari telah dilahap sang malam.
Orang yang telah mati tak membutuhkan
cinta. Ia tak butuh janji, tak butuh kesetiaan yang digenggam terlalu erat
hingga melukai diri sendiri. Lupakan aku. Lupakan sumpah perihal kesudianmu
untuk terus mencintaiku. Dunia kita telah berbeda dimensi. Napas kita tak lagi
seirama, bahkan gema langkah kita pun tak pernah bertemu di jalan yang sama.
Segala upayamu akan sia-sia jika kau terus
menyegel dirimu dalam keterpurukan yang kau sebut setia. Cinta tak seharusnya
menjadikanmu tawanan. Dan jika ada satu kata paling sempurna untukmu hari ini, kata
yang pahit namun paling jujur, maka biarlah itu menjadi perpisahan.
Selamat tinggal.

hmmm.. #keningmengerut
BalasHapusSelamat Tinggal
BalasHapusselamat menikmati kehidupanmu di dunia yang lain
aku akan menjaga rasa itu tetap abadi dibawah sini