Namamu… masih ada. Tertanam di relung
paling sunyi dalam dadaku. Sengaja kusimpan, meski waktu telah melahapnya
hingga tinggal semburat samar. Ia tetap berbekas indah di antara gemuruh
kesakitan yang tak pernah benar-benar reda. Aku mencintaimu tanpa nalar. Menunggu
dan terus percaya bahwa suatu hari langkahmu akan kembali menujuku.
Seribu tiga ratus empat puluh
dua malam aku menunggu. Lelah? Ya, tentu saja. Namun ini bukan
tentang menyerah. Aku hanya letih pada malam yang seakan mengutuk, merentangkan
jarak, menghalangi waktu pertemuan kita. Di sela kekhawatiran yang menggigil,
aku tetap tersenyum. Termangu di sisa-sisa gelap, mengais memori yang perlahan
memudar seperti tinta yang tersapu hujan.
Malam kian bengis. Kutukannya menjelma
nyata, memberiku dua pilihan yang sama-sama menyayat: tetap bertahan meski
terluka, atau berbahagia tanpa dirimu di dalamnya.
Pikiranku pecah, jatuh di antara
halaman-halaman pada buku kosong tak bertanda. Aku tersentak, dengan
gemetar kubuka satu per satu lembarannya, berharap menemukan kembali keputusan
yang sempat kutuliskan dalam keyakinan.
Malam yang egois tak sabar menunggu
jawaban dariku. Murka, malam mulai murka. Sebentar lagi malam akan melahapku
dengan kekelamannya. Tunggu ... kenapa aku harus takut? Bukankah ada yang lebih
kelam dari malam?
Itulah hatiku, yang dipenuhi oleh luka.
Menunggumu mungkin adalah bentuk paling
sunyi dari kehancuran, ketika kewarasan luruh setitik demi setitik seperti
embun yang jatuh sebelum fajar. Namun, hatiku enggan belajar menyerah. Ia
memilih menjadi lentera kecil di tengah badai, redup namun bertahan, menyala
bukan karena yakin kau akan kembali, melainkan karena tak tahu cara untuk
padam. Jika seluruh semesta sepakat menyebutku bodoh, biarlah. Sebab di antara
gelap yang tak bertepi, hanya satu yang tetap kupeluk erat: namamu yang terus
hidup, bahkan ketika aku perlahan kehilangan diriku sendiri.

jadi hati yang terluka itu lebih kelam dari malam yaa đŸ˜‚
BalasHapussecara fiksi sih gitu mbak hihihi
Hapusnice, sukak ... lovelove
BalasHapusBagaikan si pungguk merindukan rembulan
BalasHapus