Merambat, melumat segala yang terjamah.
Aku benci jalanan yang basah akibat langit yang menangis seharian. Membuat
sepatu putihku jadi kotor. Tak jarang bekas hujan di jalanan semburat
kemana-mana sebab kendaraan yang melaju kencang. Bekas hujan memang tak ada
romantis-romantisnya.
Rahangku bergemelutuk pasrah, haruskah
kulanjutkan perjalanan ini?
Dibalik kacamata minus dua yang
bertengger di hidung mancung ini, mataku menyorot tajam di sekeliling. Takut
jika ada kendaraan yang melaju lebih kencang lagi hingga membasahi rok selutut
dan kaos biru lautku.
Sebentar lagi malam akan tiba, tapi tak
ada senja yang mengawalinya. Gara-gara awan gelap yang tak kunjung pergi meski
hujan telah berhenti. Kupercepat langkah kaki, tak sabar ingin segera sampai di
tempat tujuan. Dia pasti sudah lelah menunggu di sana.
Dua puluh delapan menit aku tiba di
perpustakaan kota. Selain terkenal dengan kelengkapan bukunya, juga kenyamanan
tempatnya. Ada cafe, juga taman mini yang memang dikhususkan bagi yang ingin
membaca sembari mengobrol. Mataku mencari-cari di mana dia duduk, sebab tempat
duduk yang biasa kami pakai sudah ada yang menempati.
Berhimpit di antara rak-rak buku,
mataku tak lagi fokus mencarinya. Ada buku yang membuat mata ini beralih.
“Antariksa, jadi buku itu yang ingin
kamu cari?” Suara yang tak asing ini mengejutkanku.
“Rey, kamu di sini? Tadi aku
mencarimu.”
“Tapi kamu tak menemukanku, kan?
Bagaimana bisa ketemu, kalau ada yang lebih menarik dariku di matamu?” ucapnya,
menggoda.
“Rey, apa sih kamu ini.” Wajahku
tertunduk malu. “Lalu, mana buku yang mau kamu baca?” tanyaku, mengalihkan
pembicaraan.
“Nih, satu buku dengan tiga sub judul.”
Rey menyodorkan buku yang dibawanya.
“Sungai-Rinai-Pandai. Itu ...
puisi?” Keningku berkerut, heran. Tak ada jawaban, Rey hanya tersenyum. Okey, anggap
saja jawabannya adalah iya.
Kami memtuskan untuk meminjam buku dan
membacanya di cafe agar bisa mengobrol dan menghangatkan tubuh dengan memesan
kopi panas.
“Pesan apa, Kak?” tanya seorang
pelayan.
“Vanilla lette satu dan espresso satu,”
jawabnya.
“Baiklah, tunggu sebentar, Kak!” ucap
pelayan itu.
“Kenapa espresso? Tidak biasanya.”
tanyaku, setelah pelayan itu meninggalkan meja kami.
“Sudah cukup manis menatapmu, mengapa
aku harus pesan yang manis-manis juga,” jawabnya begitu santai, sambil membuka
buku yang baru saja dia pinjam.
Dasar pria, dengan santainya bicara
seperti itu tanpa peduli telah membuat jantungku berdegup kencang. Rasanya,
seperti ada ratusan kupu-kupu beterbangan di sekeliling.
“Aku penasaran, kenapa kamu meminjam
buku itu? Bukankah buku itu biasa dibaca oleh anak-anak?” tanyamu,
menggoda. Dia ini memang suka sekali menjahiliku.
Bibir mengerucut, kemudian menatapnya
dengan mata yang sedikit kusiniskan tanpa menjawab pertanyaanya yang
mengesalkan itu.
“Kamu malah terlihat sangat manis
dengan ekspresi seperti itu. Membuatku tergoda sampai ingin mencubitmu hingga
tambah kesal.” Senyum merekah dari bibir tipisnya. Begitu menggoda, menjeratku
hingga terjatuh sejatuh-jatuhnya.
“Buku ini sangat indah. Sebuah
pemandangan yang tak akan pernah bisa kujangkau, yaitu Antariksa. Warna-warni
dari galaksi, seperti Galaksi Bimasakti yang memiliki 200-400 miliar bintang
dengan diameter 100.000 tahun cahaya. Ada juga Galaksi Cincin yang dikelilingi
oleh bintang-bintang biru terang yang terbentuk bagai cincin raksasa. Ah,
membayangkannya saja sungguh indah apalagi bisa menyaksikannya,” ucapku,
panjang lebar. Awalnya memang berniat mengalihkan pembicaraan untuk menutupi
rona merah di wajah agar tak ketahuan oleh Rey. Tapi malah jadi terbawa suasana
dan mengatakan hal-hal yang tak perlu.
“Jadi, kamu suka bintang? Apa karena
itu, kamu diberi nama Rasi?” Rey menatapku. Tatapanya begitu sejuk dan menawan.
Dia ini benar-benar sempurna, bagiku.
Tubuhnya tinggi, hidung mancung dan
memiliki senyuman yang sangat manis. Kulit putih, bersih dan rambut berponi
yang bergaya ala artis-artis korea ini, semakin membuat Rey terlihat menawan.
Benar-benar idola kampus.
“Lalu, Aurora. Cahayanya sangat indah,
loh. Aurora itu ...”
“Maaf memotong. Ada telepone nih,
sebentar ya!” Gawai milik Rey berbunyi, dia berdiri dan menjauh dari tempat
duduk.
Sebentar lagi, mungkin Rey akan pergi.
Aku yakin akan hal itu. Ekspresinya berubah saat menatap gawai yang tengah
berbunyi.
“Rasi, maaf ya! Aku harus pergi. Eliana
baru saja menelpon dan minta untuk dijemput. Kalau aku tak segera datang, dia
nanti bisa menangis.” Wajah Rey terlihat sedih. Seperti merasa bersalah.
“Pergilah!” Aku tersenyum kepadanya.
Jangan, jangan pergi, Rey. Jangan
pergi, kumohon, tetaplah di sini! Bersamaku. Itulah kata
yang selalu ingin kuucapkan. Tapi tak pernah bisa. Eliana adalah teman satu
kelasku di kampus, sebab berteman baik dengannya aku jadi mengenal Rey.
Eliana dan Rey sudah berteman sejak
kecil, rumah mereka juga berdekatan. Sampai sekarang tak tahu bagaimana
perasaan Rey kepadaku. Apa baginya aku ini hanya teman yang menghibur? Karena
sangat jelas bahwa Rey itu begitu perhatian kepada Eliana. Bagi Rey, melindungi
Eliana adalah sebuah kewajiban. Memangnya siapa sih, Eliana itu?
Pacarnya juga bukan, hanya teman masa kecil apa harus sampai seperti itu? Ah,
benar-benar kacau, hatiku kacau dibuatnya.
“Kak, permisi ini kopinya,” seru
pelayan cafe, menyentakku dari lamunan.
“Iya kak, terima kasih” jawabku, ramah.
Aku meletakkan espresso tepat di depan
tempat duduk Rey.
“Nah, Rey kita lanjutkan lagi ceritanya.” Haha aku seperti orang gila saja, berbicara dengan kopi.

gelar tiker lagi ah, nunggu sambungannya..
BalasHapusYey..capcus ke bab 2
BalasHapusGemesgemes manis ceritanyaa.
BalasHapusSaat wanita bilang pergilah, maka seharusnya kamu tetap tinggal.
- (lupa kutipan siapa 😅)