“Kamu, jatuh lagi?”
“Tenanglah kamu tak akan mati!”
“Luka itu tak dalam, jadi santailah
sedikit!”
“Tahan dan lakukan yang terbaik!”
Suara-suara itu melintas seperti angin… terdengar,
namun tak benar-benar menyentuh. Mereka hanya pandai merangkai kata, tanpa
pernah menyelami riuh yang bersemayam di dadamu. Jatuh, bangkit, jatuh lagi,
lalu memaksa diri berdiri kembali. Tangis dan tawa saling beradu, menjelma
sendu yang tak bernama.
Kamu mencoba terus berdiri, bertahan
kemudian memudar. Terlarut dalam kuasi yang tak berkesudahan. Astaga, betapa
ringkihnya hatimu. Lagi-lagi tanggal; terlepas lalu jatuh, luruh.
Malam masih beradu bersama lengang. Detik
jam menetes seperti embun waktu, menghibur roh-roh yang tersungkur oleh
kefanaan. Dan kamu, adalah salah satu di antaranya, bersimpuh dalam diam, tak
kuasa merangkai doa. Kata-kata menjadi beban paling berat untuk diucap. Malam
memang terasa begitu tragis. Menangislah, jika itu sedikit mendamaikan. Tapi
esok, kau harus kembali menyalakan langkahmu.
Jantungmu terus berdegup seperti tak ada
jeda. Keringat dingin mendekap, melahap seluruh tubuh. Takut? Karena apa? Kamu
punya mereka, dua pahlawan yang senantiasa di sisi. Waktu sudah berjalan
terlampau jauh, tapi kedua kakimu tak beranjak kemana pun.
Kita adalah sepasang napas yang
menjelma seperti kanon; komposisi musik yang terus bersahutan. Hampir tak tahu
kapan waktu yang tepat untuk berhenti beradu. Bukankah itu romantis?
Maaf, tapi itu dulu.
Menyerahlah. Aku tak akan pernah kembali.
Ada luka yang terlalu panjang untuk dijelaskan, dan aku memilih diam daripada
melukai dengan penjelasan yang tak akan pernah cukup. Jangan biarkan dirimu
runtuh hanya karena lelaki yang tak lagi berani pulang. Dua pahlawan renta itu
menantikan senyummu, celoteh ringan yang dulu menghidupkan rumah.
Aku tak lagi menjadi sosok yang harus
direfleksikan dengan sempurna olehmu. Ragaku telah terdekadensi oleh wanita
jalang itu.
#Day 2
#30DWC
#OneDayOnePost

Daleeem... 😆
BalasHapusWoooow... Keren
BalasHapus