“Aku suka hujan.” Kataku pelan,
sembari menatap rinai yang jatuh seperti rahasia langit.
“Kenapa?” tanyamu, penasaran.
“Karena ... ” ucapanku menggantung di
udara, senyum merekah di bibir, “Hujan dengan murah hati
menyembunyikan air mataku.”
“Apa kaupikir hujan itu hanya untuk
menjadi tempat persembunyian? Sungguh egois.” wajahmu mengeras,
sorot matamu menyentuhku lebih dalam dari rintik yang jatuh.
“Apa aku salah?” tanyaku, heran.
“Kalau mau menangis, berdirilah di depan
kaca. Tatap wajahmu yang sembab itu. Mungkin kau akan berhenti menangis, lalu
tertawa karena sadar betapa buruknya wajahmu saat bersedih,” jawabmu sinis, tapi nadanya tak sepenuhnya kejam. Lebih
seperti seseorang yang tak ingin aku terus tenggelam.
“Kenapa kamu jadi sinis gini, sih…”
gumamku, hampir tak terdengar.
“Apa kamu bilang?”
“He he he aku bilang kamu tampan,”
godaku, menyelamatkan diri dari tatapanmu yang menyala.
“Dasar wanita centil.” Kau terdiam
sejenak, memandangku seolah ingin membaca seluruh isi kepalaku. Lalu suaramu
melunak, “Kamu ingat? Pertemuan pertama kita terjadi saat hujan turun tanpa
aba-aba. Dan aku tak ingin kamu memaknai hujan hanya sebagai tempat
persembunyian.”
Kedua tanganmu terangkat, mengapit pipi chubby-ku
yang memanas. Sentuhan itu hangat, kokoh, menenangkan, seperti dinding yang
menahan badai.
Yah, kamu memang idaman yang tak pernah
kupinta namun selalu kurindukan. Sejak bersamamu, tempat peraduanku tak lagi
pada hujan yang menyamarkan luka, melainkan pada bahumu yang meneduhkan jiwa.
Segala hampa dan kesal yang beradu di dadaku luruh, ditelanjangi oleh
kata-katamu yang lembut namun tegas.
Nyatanya, cinta selalu berhasil melepas
hamparan kegelisahan. Jika bukan kamu? Apakah perasaan ini akan tetap
sama? Entahlah.
Hujan adalah kata kunci paling romantis
bagimu. Lembut, mudah khawatir, tak segan berlinang saat melihatku terluka.
Melankolis yang jujur. Dan kini aku terjerat, bukan oleh rinainya, melainkan
oleh bayang-bayang rasamu yang membungkusku perlahan.
Mataku mulai basah, bukan lagi untuk disembunyikan.
#8thDay
#30DWC
#OneDayOnePost
#Singa-kaca-hampa

Entahlah kurasa setiap rasa akan berbeda dengan sosok yang berbeda.
BalasHapusBkankah lebih asyik berpayungkan hujan?
BalasHapusHujan, muara segala cerita
BalasHapusKeren
BalasHapusDalaaam.. 😋
BalasHapusDalaaam.. 😋
BalasHapusBeneran kyk di adegan anime saja
BalasHapusMbak lail tanggungjawab. Akunya baper nih 😷
BalasHapusKerennn mba..😍😍
BalasHapus