Buku-buku itu adalah sesuatu yang mampu membawa pikiran-pikiran ajaibku melayang di atas suara yang mampu menembus waktu.

Rabu, 17 Januari 2018

Dewi





 Sumber gambar : https://i1.wp.com/

Berbalut kerudung panjang dan busana muslimah yang bersahaja, ia tampak begitu teduh. Lembut dalam berkata, sopan dalam berlaku. Di atas kursi panjang itu, ia tersenyum menatap buku bacaannya, seolah menambah nyawa pada keindahan taman bunga ini. Lebih dari satu jam berlalu, namun aku masih saja mencuri pandang dalam diam. Hatiku riuh, berjingkrak tak keruan menembus angkasa. Biarlah deru angin, napas yang berbaur dengan udara, dan Tuhan yang menjadi saksi atas segala rasa.

Dewi Mar’atus Shalihah, nama yang hingga kini tak henti kusebut dalam doa. Meski belum pantas untuk menyatakan hal ihwalku, tapi sungguh perasaan ini tak akan berujung pada permainan semata. Rasa yang merambat, kemudian melumat habis nurani. Mengitari semesta dalam diri. Ah, barangkali aku memang terlalu berlebihan dalam merangkai kata.

Assalamualaikum, Ali.”

“Wa’alaikumsalam.” Suara yang tak asing menyentakku dari lamunan.

“Eh, Fatih… sejak kapan kamu di sini?” tanyaku, penasaran.

“Aku datang karena rasa ingin tahu,” ujarnya, tersenyum samar.

“Ingin tahu? Tentang apa?”

“Tentang bidadari yang setiap Sabtu dan Minggu sore singgah di taman ini untuk membaca.” Tangannya menunjuk ke arah perempuan yang sejak tadi menjadi pusat diamku.

“Dia … wanita yang akan menjadi istriku.” lanjutnya.

Dunia mendadak sunyi.

“Aku jatuh cinta sejak pertama kali bertemu. Tak ingin mendahului takdir orang lain, aku segera mengkhitbahnya. Alhamdulillah, dia dan keluarganya menerimaku. Bulan depan kami menikah.” Ia menepuk bahuku ringan. “Karena kau sahabatku, kau harus tahu kisah indah ini.”

Penjelasan Fatih mungkin panjang, namun telingaku seolah kehilangan makna. Kata-katanya menjelma sembilu, menguliti nurani hingga ke dasar yang paling perih. Ia baru saja mengubah puisi menjadi elegi, mengganti cahaya menjadi temaram.

Ternyata, mencintai dalam diam memang menuntut kesiapan untuk patah tanpa suara. Kini, bagaimana caranya aku tetap bernapas, jika udara di sekitarku baru saja direnggut paksa?

 


#6thDay
#30DWC
#Enam-kesurupan
#OneDayOnePost

6 komentar:

  1. Ah, kenapa hanya memandang saja? Ah, sudahlah ... :)

    BalasHapus
  2. Oooh sakit hati
    Jatuh cinta pada gadis yang sama?

    BalasHapus
  3. pendek, tapi hati seperti tersayat jarum yang abis masuk ke rebusan sayur :(

    BalasHapus
  4. Tidak sendiri mengalami itu, banyak yang masih mengamati atau menyiapkan amunisi tapi tiba2 sasaran direnggut orang. Maka judulnya belum berjodoh....

    BalasHapus
  5. Ngenes ending.. sabar ya mas ali.. semoga segera bertemu dengan dewi yang lain.. 😀

    BalasHapus
  6. Jika memang berjodoh, pasti dipertemukan. Jika bukan, maka akan dipertemukan dengan yang lain kok ...

    BalasHapus

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Halaman

Aku adalah aku... Bukan kamu juga bukan dia.

BTemplates.com

Seperti Romeo and Juliet

Sumber gambar : google. Com "Kenapa? Bukankah kalau kamu sakit tak akan bisa merawatku?" tanyamu, lembut. Tubuhku terhuy...