Berbalut kerudung panjang dan busana
muslimah yang bersahaja, ia tampak begitu teduh. Lembut dalam berkata, sopan
dalam berlaku. Di atas kursi panjang itu, ia tersenyum menatap buku bacaannya,
seolah menambah nyawa pada keindahan taman bunga ini. Lebih dari satu jam
berlalu, namun aku masih saja mencuri pandang dalam diam. Hatiku riuh,
berjingkrak tak keruan menembus angkasa. Biarlah deru angin, napas yang berbaur
dengan udara, dan Tuhan yang menjadi saksi atas segala rasa.
Dewi Mar’atus Shalihah, nama yang
hingga kini tak henti kusebut dalam doa. Meski belum pantas untuk menyatakan
hal ihwalku, tapi sungguh perasaan ini tak akan berujung pada permainan semata.
Rasa yang merambat, kemudian melumat habis nurani. Mengitari semesta dalam
diri. Ah, barangkali aku memang terlalu berlebihan dalam merangkai
kata.
“Assalamualaikum, Ali.”
“Wa’alaikumsalam.” Suara yang tak asing
menyentakku dari lamunan.
“Eh, Fatih… sejak kapan kamu di sini?”
tanyaku, penasaran.
“Aku datang karena rasa ingin tahu,”
ujarnya, tersenyum samar.
“Ingin tahu? Tentang apa?”
“Tentang bidadari yang setiap Sabtu dan
Minggu sore singgah di taman ini untuk membaca.” Tangannya menunjuk ke arah
perempuan yang sejak tadi menjadi pusat diamku.
“Dia … wanita yang akan menjadi
istriku.” lanjutnya.
Dunia mendadak sunyi.
“Aku jatuh cinta sejak pertama kali
bertemu. Tak ingin mendahului takdir orang lain, aku segera mengkhitbahnya.
Alhamdulillah, dia dan keluarganya menerimaku. Bulan depan kami menikah.” Ia
menepuk bahuku ringan. “Karena kau sahabatku, kau harus tahu kisah indah ini.”
Penjelasan Fatih mungkin panjang, namun
telingaku seolah kehilangan makna. Kata-katanya menjelma sembilu, menguliti
nurani hingga ke dasar yang paling perih. Ia baru saja mengubah puisi menjadi
elegi, mengganti cahaya menjadi temaram.
Ternyata, mencintai dalam diam memang
menuntut kesiapan untuk patah tanpa suara. Kini, bagaimana caranya aku
tetap bernapas, jika udara di sekitarku baru saja direnggut paksa?
#6thDay
#30DWC
#Enam-kesurupan
#OneDayOnePost

Ah, kenapa hanya memandang saja? Ah, sudahlah ... :)
BalasHapusOooh sakit hati
BalasHapusJatuh cinta pada gadis yang sama?
pendek, tapi hati seperti tersayat jarum yang abis masuk ke rebusan sayur :(
BalasHapusTidak sendiri mengalami itu, banyak yang masih mengamati atau menyiapkan amunisi tapi tiba2 sasaran direnggut orang. Maka judulnya belum berjodoh....
BalasHapusNgenes ending.. sabar ya mas ali.. semoga segera bertemu dengan dewi yang lain.. 😀
BalasHapusJika memang berjodoh, pasti dipertemukan. Jika bukan, maka akan dipertemukan dengan yang lain kok ...
BalasHapus